Jumat, 06 Januari 2017

Segowangi 35

Segowangi 35 jatuh pada hari Jumat 30 Desember 2016. Sengaja kita beri tema "end year party" dengan dress code Tweedride agar berkesan 'wah' :D Sudah satu tahun lebih kita tidak bertweedride ria :D





Selain tema dan dress code yang istimewa, kali ini kita juga mendapatkan tamu istimewa : sekitar 12 onthelis dari KOSTI Kudus khusus datang untuk meramaikan segowangi akhir tahun 2016.

Sepanjang pagi, siang hingga sore hari Jumat 30 Desember 2016 itu Semarang diguyur hujan, kadang gerimis, kadang melebat. Setelah sekian puluh kali menyelenggarakan segowangi, kita tak lagi khawatir dengan hujan. :D hujan maupun tidak hujan, kita akan tetap datang ke tikum untuk menyelenggarakan acara silaturrahmi para pehobi sepeda malam.

Pukul 17.30, kawasan Tugumuda masih diguyur gerimis tipis. Pukul 18.15 aku dan Ranz beriringan menuju balaikota, gerimis masih terasa. Namun sesampai tikum, gerimis telah berhenti. Setelah itu, sama sekali gerimis tak lagi menyapa.





Sekitar pukul 19.00 saat ngobrol di depan pintu gerbang keluar Balaikota, kita baru tahu bahwa ada teman-teman onthelis dari KOSTI Kudus yang datang untuk bergabung. Om Bob Riza -- ketua SOC yang telah 'menjawil ketua KOSTI Kudus untuk ikutan gowes. Sayangnya Om Bob sendiri tidak bisa bergabung karena anaknya sedang sakit.

Seperti biasa, sebelum mulai gowes bareng, kita berfoto-foto dulu.







Jika semula kita merencanakan bersepeda ke arah Barat sampai Jalan Anjasmoro hingga PRPP, namun karena hujan yang mengguyur seharian, aku putuskan untuk segera menyeberang ke arah yang berlawanan di depan Puspanjolo, untuk kemudian langsung ke arah Jalan Indraprasta; demi menghindari kemungkinan melewati daerah-daerah banjir.

Kita tetap berfoto-ria di dua spot: Polder Tawang dan Gereja Blenduk.




Dalam perjalanan kembali ke balaikota, rombongan dari Kudus memisahkan diri, mereka berbelok ke arah Thamrin karena mereka ingin menyambangi Simpanglima dan berfoto-foto disana. Mumpung berada di Semarang. :D

Di balaikota kita akhiri acara dengan bermain kembang api bersama.

Selamat tahun baru 2017!

IB 14.32 07/01/2017









Selasa, 03 Januari 2017

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 5

Day 5 Selasa 27 Desember 2016 ~ Pulang!

Kembali kita mulai antri mandi pukul empat pagi. Berkebalikan dengan sehari sebelumnya yang cerah, Selasa ini di luar turun gerimis tipis. Setelah sarapan serabi dan kripik plus minum teh manis yang disediakan kakak iparku, kita pamitan pukul 06.45.





Dalam perjalanan menuju terminal, gerimis tipis tetap menemani, meski ga begitu membuat kita basah. Kita sampai terminal pukul setengah delapan. Bus yang akan kita naiki belum nampak di jalur dua. Meskipun begitu, kita mulai mendapatkan ‘kesulitan’. Yang berjualan tiket sehari sebelumnya, dan kondektur bus mempermasalahkan sepeda lipat kita yang ‘ternyata’ berjumlah 5 biji. Mereka mengira kita berlima hanya membawa satu buah seli. Hadeeehhh ... kalau hanya 1 ya ngapain kita repot-repot “menginterogasi” si penjual tiket kemarin yak? Sempat berdebat sebentar – yang intinya pihak ‘sana’ minta tambahan uang – akhirnya semua berjalan lancar. Masing-masing sepeda lipat itu dikenai charge tambahan sejumlah Rp. 40.000,00! Wew. (NOTE : di bulan Maret 2013, aku dan Ranz naik bus yang sama dari Purwokerto ke Semarang dengan membawa dua buah sepeda lipat, 1 tas pannier besar, plus beberapa dus berisi oleh-oleh, kita tidak dimintai biaya tambahan sepeser pun.)



Bus meninggalkan terminal Harjamukti Cirebon pukul 08.20, tepat di jam yang tertera di tiket. Alhamdulillah perjalanan lancar dan kita sampai di Kalibanteng pukul 13.30. (Avitt turun di Krapyak, kita berempat turun di seberang kantor agen bus.)


suasana dalam bus


turun dari bua, dekat makam Belanda Kerkop 

Kami haturkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu melancarkan perjalanan ini



  •       Edy, Asrul dan om Dije yang telah berkenan mengantar hingga Kendal/Batang
  •     Anjar yang telah menyediakan kamar tempat kita menginap di malam pertama, plus makan malam dan sarapan yang cukup mengganti energi yang kita keluarkan.
  •      Om Hendrit, om Nanto dan Kanzul yang secara estafet mengawal kita dalam perjalanan Batang – Pemalang – Brebes
  •     Ghina sekeluarga yang telah menyediakan kamar tempat kita menginap di malam kedua, plus sarapan yang cukup mengisi energi untuk bersepeda dari Brebes hingga Cirebon
  •       Kakakku dan istrinya yang telah menyediakan kamar tempat kita beristirahat secara nyaman dalam waktu dua malam.
  •      Terima kasih juga pada para penyapa di sepanjang jalan pantura yang membuat perjalanan kita lebih menyenangkan

Sampai jumpa di petualangan kita berikutnya! Yeay! (who knows we can have another adventure ...)



LG 11.12 30/12/2016 

Senin, 02 Januari 2017

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 4

Day 4 Senin 26 Desember 2016 ~ City tour de Cirebon

Goa Sunyaragi yang amazing!
sebelum berangkat city tour
Pagi ini kita memanjakan diri dengan memulai antri mandi pukul enam pagi (memuaskan diri mengistirahatkan tubuh di kasur yang cukup nyaman.) J kita cukup bersantai ria sampai kita meninggalkan rumah kakakku untuk memulai city tour jelang pukul sembilan pagi. Meski semalam turun hujan, pagi ini cuaca cukup cerah.

sarapan nasi jamblang Ibu Nur

Tujuan pertama adalah nasi jamblang Ibu Nur yang terletak tak jauh dari apotik Kejaksan. Mungkin karena tanggal 26 Desember ini termasuk hari cuti bersama, banyak orang ‘menyerbu’ rumah makan Ibu Nur. Kita terpaksa mengantri sampai di luar pintu. :D dan ... kembali kaos (baru) kita yang bertuliskan “velo girls Semarang tour de Cirebon” menarik perhatian orang. Beberapa orang menyapa, “Dari Semarang ya Mbak? Gowes terus dari Semarang ke Cirebon? Butuh waktu berapa hari?”


latar belakang : menara masjid di alun-alun kota Cirebon


Sekitar pukul 10 pagi kita meninggalkan lokasi kita sarapan. Berdasarkan peta yang dipelajari oleh Ranz (via google map), destinasi pertama yang kita tuju adalah Keraton Kasepuhan. Ini adalah kunjungan pertamaku ke keraton ini, meski Cirebon telah kukunjungi beberapa kali, semenjak kakakku pindah kesana. :D


Pagi itu keraton cukup ramai. Menurut salah satu ‘guide liar’ yang mengikuti kita, sehari sebelumnya keraton benar-benar ramai karena yang berkunjung berbus-bus. Menurut guide tersebut, keraton ini dikelola sendiri oleh Sultan Cirebon. Untuk pemeliharaan keraton, keluarga kerajaan kesultanan Cirebon mengandalkan dari tiket masuk para pengunjung yang datang. Harga tiket Rp. 20.000,00 per orang.




Ada tiga lokasi yang kita kunjungi dalam keraton. Yang pertama adalah museum kereta Singabarong. Disini dipamerkan dua kereta. Yang pertama, dipamerkan di ruang utama adalah kereta asli yang pernah dinaiki oleh Sunan Gunung Jati. Dibuat pada abad ke-16. Yang kedua, berupa duplikat, dipamerkan di ruang belakang ruang utama. Kereta duplikat ini dibuat di abad 20. Saat ada ada kerajaan – misal kirab 1 Muharram – kereta duplikat inilah yang digunakan. Berdasarkan ornamen kereta yang ada, kita bisa menyimpulkan bahwa ada asimilasi kultur Hindu, China, dan Arab/Islam. Tidak jauh beda dengan warak sebagai ikon kota Semarang. J

Dari museum kereta, kita berjalan ke arah gedung utama dimana keluarga Sultan Cirebon bermukim. Namun tentu saja kita tidak bisa masuk ke bagian dalam. Kita hanya bisa melongok-longok. J

Dari gedung utama, kita masuk ke museum tempat penyimpanan benda-benda peninggalan kesultanan dari sekian abad yang lalu.




Kita keluar keraton sekitar pukul 12.00. Siang itu cuaca Cirebon sangat cerah, mendekati panas. LOL. Karena kehausan, kita tidak langsung melanjutkan perjalanan, namun kita mampir dulu di satu warung yang berjualan minuman di depan keraton. Untuk ngemil, Ranz dll membeli tahu gejrot dan seblak.

Lebih dari pukul 13.00 kita melanjutkan perjalanan ke terminal bus. Saatnya hunting tiket bus untuk pulang ke Semarang. Kita juga harus memastikan bahwa bus mau menampung lima sepeda lipat. Namun sayangnya pulangnya kita masih belum yakin apakah bus yang akan kita tumpangi bersedia sekalian mengangkut lima sepeda lipat sekaligus. Kata si penjual tiket, “tergantung kondektur busnya besok bersedia atau tidak.” Hadeeehhh ...

(Mengapa naik bus? Bukan kereta api? Karena tiket KA ekonomi sudah sold out. Hanya ada tiket KA kelas bisnis dan Ranz kurang yakin apakah KA bisnis bersedia membawa sepeda lipat 5 sekaligus. Hhhhhh ...)

Siang itu benar-benar panas. Wew. Untungnya lokasi Goa Sunyaragi – destinasi wisata berikutnya yang kita kunjungi – terletak tak jauh dari terminal. Kurang dari 15 menit kita meninggalkan terminal, kita telah sampai di destinasi wisata yang juga disebut “Tamansari Sunyaragi”.

Cuaca panas membuat kita benar-benar kehausan. Maka sebelum masuk kawasan wisata Goa Sunyaragi, kita mampir di satu warung – di antara sekian warung -- yang terletak di dekat tempat parkir. Kita ingin minum es teh. Sayangnya, ternyata warung-warung itu tidak punya persediaan air teh yang telah siap diminum. Anak si penjual “membuatkan” teh terlebih dahulu dengan teh celup. Sayangnya air hangatnya hanya sedikit, dan teh belum beneran jadi, sudah dicampur dengan air yang tidak panas, plus diberi es. L gagallah rasa tehnya. Hadeeeh.





Kekecewaan rasa teh yang gagal itu ditebus dengan ajaibnya kawasan yang disebut “Goa Sunyaragi” itu. Bentuknya yang nampaknya terbuat dari batu-batu karang bertumpuk-tumpuk itu sungguh menarik. Bentuk keseluruhannya mengingatkanku pada Situs Ratu Boko. Mungkin dulunya, sekian abad lalu, di kawasan ini berdiri keraton.

Kita tidak menyewa jasa seorang tour guide disini sehingga kita tidak begitu tahu sejarahnya. Memang sengaja kita tidak merasa perlu tahu, agar bisa leluasa menikmati panorama indahnya dengan berfoto-foto. J




Menjelang pukul empat sore, tubuh sudah terasa cukup lelah, kita memutuskan untuk mengakhiri ‘penjelajahan’. Kita keluar lokasi wisata ketika ada sekian puluh orang sedang berlatih menari di panggung utama. Ketika bersepeda mengitari lokasi dari luar untuk pulang ke arah Tangkil, kita baru sadar bahwa kita kurang menjelajah ke bagian-bagian pinggir (terlihat dari balik pagar.)  :D Ya sudah gapapa, biar ada alasan untuk kembali lagi next time. :D

On the way, kita mampir ke satu minimarket untuk membeli minum. Hesti membeli cilok dari seorang penjual yang kebetulan lewat. J


Kita sampai di rumah kakakku jelang pukul setengah enam. Saatnya beristirahat dan packing. J sekitar pukul setengah tujuh, aku dan Ranz keluar untuk membeli nasgor dan kwetiau untuk makan malam kita. Kita makan bareng di teras rumah sambil ngobrol rame banget. Kita masuk rumah jam sembilan malam, kemudian antri mandi satu-satu. 

to be continued :)

Sabtu, 31 Desember 2016

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 3

Day 3 Minggu 25 Desember 2016 Brebes - Cirebon

di gapura selamat datang di kota Cirebon; yeay!

Sehari sebelumnya Avitt sudah wanti-wanti sebaiknya kita segera mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali karena Ghina bersama ibunya pagi itu akan pergi ke Semarang.  Maka kegiatan kita mulai dari pukul empat pagi: antri mandi. :D pukul enam kurang kita telah duduk melingkari meja makan untuk sarapan. Pukul setengah tujuh kita sudah siap di teras rumah Ghina.

Suwun Ghina telah menyediakan kita kamar untuk beristirahat dan sarapan untuk menunjang kita melanjutkan bersepeda ke Cirebon. J


Pukul tujuh kita telah kembali berada di jalur pantura. Kita mengenakan kaos berwarna biru cerah dengan tulisan “local bikepacker” tanpa tulisan yang mencolok di bagian punggung. Ini sebab kita tidak banyak disapa orang di jalan, “Dari Semarang ya Mbak? Mau kemana?” hihihihi ...

Setelah kita melewati ‘Brexit’, praktis kita jarang bertemu dengan bus-bus dari arah berlawanan. Mungkin banyak bus dari arah Jakarta yang lewat jalan tol. Kalau pun ada, Avitt dan Hesti hafal mereka bus-bus yang tidak memiliki klakson ‘telolet’. LOL. Jenuh lah kita. LOL. Dan kita pun ternyata ‘tertipu’ dengan petunjuk jarak. Sehari sebelumnya sebelum sampai gapura selamat datang Tegal, kita sempat melihat petunjuk jarak “29 kilometer Cirebon”. Wahhh ... kalau sedekat itu, kita bisa lanjut gowes nih.






Setelah melanjutkan perjalanan, kita baru tahu bahwa 29 kilometer itu adalah jarak menuju gapura selamat jalan Brebes. LOL. Kita pun mutung dengan petunjuk jarak yang ternyata memberi petunjuk yang tidak bisa kita percaya. LOL.

dadah pak Ganjar, kita mampir ke tetangga sebelah dulu yaaa

Masih untung ada petunjuk jarak yang teletak di ‘pulau jalan’. Dari situ, kita mendapatkan gambaran kira-kira kurang berapa kilometer lagi yang harus kita tempuh.

15 kilometer menuju gapura selamat datang kota Cirebon, kita mampir satu minimarket. Saat beristirahat itu Ranz baru nyadar bahwa ban depan Pockie bocor. Untunglah di samping minimarket ada tukang tambal ban. Yang lebih menyenangkan, tak jauh dari situ ada sejenis ‘lincak’ atau ‘balai-balai’ yang bisa kita pakai untuk mengistirahatkan tubuh. Lumayan. Siang itu, suasana cukup panas.


mari istirahat :D

Gegara ban bocor, seharusnya menurut prakiraan kita bisa masuk kota Cirebon pukul 12.00, kita jadinya sampai gapura selamat datang kota Cirebon satu jam kemudian. Aku yang berada di depan memilih rute ke kiri, mengikuti petunjuk arah ‘ke kota’. Tak jauh dari situ, kita menemukan petunjuk “KFC 800 meter, Grage City Mall.” Waaahhh ... aku heran, ternyata Grage terletak tak jauh dari gapura selamat datang kota Cirebon. Kukira Grage terletak di pusat kota. :D

Sesampai di Grage City Mall ... lhooo ... ini bukan Grage Mall yang kukenal! Weleh! Waktu itu titik-titik gerimis mulai menyapa. Aku bertanya pada seorang penjual mie ayam, ternyata Grage City Mall itu berbeda dengan Grage Mall. Karena aku berjanji nraktir siapa pun yang ikut bikepacking ke Cirebon cheeseburger-nya McD, kita pun mencari lokasi gerai fast food restaurant itu di google map. Kebetulan Ranz menemukannya tak jauh dari Grage Mall, maka kesanalah kita melanjutkan perjalanan.


seorang satpam Grage City Mall yang ngomong tanpa koma tanpa titik :D

kawasan di dalam Grage City Mall


Btw, Grage City Mall itu ternyata mirip dengan BSB di kota Semarang, menyerupai ‘kota mini’ Cirebon dengan mall, perumahan elite dan fasilitas-fasilitas lain. Untuk mencapai Grage Mall, kita membelah tengah Grage City Mall. :D atas petunjuk seorang satpam di GCM, kita menemukan Grage Mall dengan mudah. Dari sana kita bertanya pada seorang polantas letak McD. :D


cheeseburger! 

Gerimis kian membesar setelah kita sampai di McD. Setelah menutupi pannier dengan cover plastik, kita masuk. Saat menikmati makan siang yang kesorean itu, di luar hujan deras turun.

Pukul 16.10 kita meninggalkan McD menuju arah makam Sunan Gunung Jati. Rumah kakakku – tempat kita bakal menginap 2 malam – terletak di belakang RS Tangkil.



Sore itu kita dibelikan bakso. Kakakku mengundang tukang bakso langganannya ke rumah. Malam, sekitar pukul 19.00 kita keluar sebentar ke minimarket untuk mengantar Avitt membeli air mineral. (Dia tidak bisa minum air mineral selain merk tertentu soalnya. LOL.) Dari sana kita kembali ke rumah kakakku, di jalan mampir beli sate ayam buat cemilan. :D Secara tak sengaja di tukang jual sate ini, Hesti bertemu dengan kawan kuliahnya yang asli Cirebon dan tinggal tak jauh dari situ. Dia juga sedang mengantri membeli sate. Nampaknya jodoh nih mereka. LOL.

bakso baksooo, menu makan sore kita :D

Jarak yang kita tempuh hari ini sekitar 68 kilometer. Syukurlah malam ini kita bisa langsung istirahat, belum perlu packing karena keesokan hari kita hanya city tour, bukan melanjutkan perjalanan ke kota lain. :D 

to be continued ...