Kamis, 08 Desember 2016

Urban Social Forum 2016

Urban Social Forum adalah satu event tahunan yang menyediakan ruang terbuka dan inklusif untuk saling bertukar pengetahuan, bertukar ide, serta memperluas jaringan antara organisasi masyarakat sipil, aktivis, akademisi, dan mahasiswa yang terlibat dalam isu-isu perkotaan. Puncaknya adalah keinginan untuk mewujudkan gagasan "another city is possible". Tentu saja jenis kota yang jauh lebih ramah untuk penghuni beserta lingkungannya.  


Tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat kalinya; dan kebetulan Semarang terpilih sebagai kota dimana USF keempat diselenggarakan. SMA N 1 Semarang terpilih sebagai lokasi dimana ke-30 panel diskusi diselenggarakan dalam 3 parallel. Hari Sabtu 3 Desember 2016 dipilih sebagai hari dan tanggal penyelenggaraan.

Honestly, meski ini adalah penyelenggaraan USF yang keempat, ini adalah kali pertama saya 'ngeh' ada event menarik seperti ini. LOL. Saya 'ngeh' pun karena disenggol oleh seorang kawan sepedaan dari Solo, Julious Disa, sekaligus diminta untuk ikut serta menjadi salah satu pembicara bersama Mbak Icha dari Kota Kita -- sekaligus bergerak aktif dalam kegiatan menggerakkan para perempuan di Solo untuk bersepeda (Women on Wheels) dimana para anggotanya adalah mereka dari tingkat sosial marjinal -- serta Mas Titis yang terlibat cukup intens dengan kegiatan Bike to School Solo. Yang menghubungkan saya dengan mereka berdua adalah Mas Fuad Jamil dari Kota Kita juga. Merupakan satu kebetulan bahwa kita berempat sebenarnya pernah berada di satu lokasi untuk menghadiri event yang sama, pada tanggal 3 September 2016 di rumah dinas Walikota Solo di Loji Gandrung. :) Event itu adalah undangan ulang tahun ke-11 B2W Indonesia yang diisi dengan menonton bersama film Bikes versus Cars, serta berdialog dengan pak walikota sekaligus kepada dishub untuk mewujudkan kota Solo yang ramah untuk para pesepeda.

Gala Dinner

Jumat 2 Desember 2016 saya dan Ranz menghadiri undangan gala dinner untuk para pembicara dan mitra Urban Social Forum di rumah makan berinterior klasik, Pesta Keboen.

Pada kesempatan yang sama, saya bertemu dengan Mas Fuad dan Mbak Icha untuk memperbincangkan apa-apa yang akan kita sampaikan pada keesokan hari.





The D day 3 Desember 2016

Sebenarnya acara USF dimulai dari pagi hari, pukul 10.00. Namun karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya, saya baru datang ke lokasi pukul 13.00. Avitt yang alumni SMA N 1 Semarang, mengajak kita masuk lewat tempat parkir. Begitu masuk, saya sempat lihat-lihat beberapa poster yang dipajang di koridor. Salah satunya dari Universitas Gadjah Mada, kalau tidak salah dari komunitas yang ingin menggalakkan jalan kaki sebagai satu alternatif kala bepergian.

Dari sana, baru kita berputar mencari tenda tempat pendaftaran. :)




Panel 25 dimana saya bersama Mbak Icha dan Mas Titis menjadi pembicara mengusung topik "Bekerjasama Mewujudkan Mobilitas dan Ruang Publik yang Aman Bagi Perempuan dan Anak"   dan Mas Fuad menjadi moderator. Saya berbagi kisah tentang pengalaman saya sebagai seorang pekerja bersepeda semenjak tahun 2008. Kontur kota Semarang yang naik turun awalnya memang menjadi momok bagi saya. Lama kelamaan, setelah 'pengalaman' saya bersepeda kian banyak, dan tanjakan tak lagi jadi hambatan, saya pun bersepeda ke tempat saya bekerja di Gombel sekitar 2 - 3 x seminggu. Meski ketika bersepeda saya haru berangkat dari rumah sangat pagi, saat cuaca masih gelap, kota Semarang cukup aman. Meski saya pernah mengalami diserang seseorang, dan seorang kawan pernah mengalami pelecehan seksual di jalan saat berangkat bekerja, pada umumnya kota Semarang cukup aman dan ramah untuk pesepeda.





Mbak Icha menceritakan pengalamannya mendampingi para perempuan yang tergabung dalam Women on Wheels. Banyak anggota WOW ini yang berprofesi sebagai pedagang di pasar, buruh, petani, dan sebangsa itu. Mereka tetap harus merasa perlu bahwa keselamatan di jalan raya itu yang utama.

Mas Titis mengutarakan kegiatannya terlibat dalam pembentukan kota Solo sebagai kota yang ramah untuk pesepeda, terutama anak-anak sekolah, dan tentu juga para perempuan

Usai diskusi parallel ketiga, masih ada plenary session yang diselenggarakan di hall. Akan tetapi kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Kita hanya mengikuti plenary session ini sebentar. Kemudian kita foto-foto sejenak, kemudian kembali.

Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan ikut terlibat dalam Urban Social Forum. Sayang saya dan teman-teman tidak bisa ikut parallel-parallel yang lain.

IB180 20.35 08/12/2016



Selasa, 06 Desember 2016

Terima kasih para pahlawan :)

Berkat usul dari seorang suami yang mencintai istrinya (ehem ...) yang kebetulan adalah paketu komunitas saudara kandung B2W Semarang (halah ...) dalam rangka mengadakan segowangi dengan tajuk "terima kasih para pahlawan kebersihan"; bulan November kemarin, kita mengadakan bagi-bagi sembako untuk para pahlawan kebersihan.

Paketu Komselis yang diam-diam terus menerus memantau B2W Semarang dan memberikan bantuan seperlunya, tak hanya memberi usul, namun juga memulai memberikan dana untuk membeli sembako buat dibagi-bagikan. :) Dan di antara para anggota Semarang Velo Girls, kita menambahi yang kita perlukan.

Dan ... begitulah. Bingkisan sejumlah 20 bungkus berisi sembako kita bagikan untuk para pahlawan kebersihan. Berhubung di malam hari kita jarang bertemu para pahlawan kebersihan, kita bagikan sebagian bingkisan sembako di hari Jumat pagi 25 November 2016, dimana malamnya kita mengadakan segowangi 34. Sebagian lain kita (rencana) bagikan waktu segowangi, namun ternyata di sepanjang jalan yang kita lewati malam itu, kita tidak bertemu dengan para pahlawan kebersihan. Maka, keesokan harinya, Sabtu 26 November, kita berputar lagi untuk membagikan sisa bingkisan.

My gratitude for
1) Om Tayux dan Komselis
2) the girls yang telah belanja, membungkusinya, dan membaginya kepada mereka yang berhak. (Tami, Avitt, Dwi, Windi, dan Ranz)

Berikut foto-fotonya. Thanks to my best partner in crime, Ananda Ranz.










Segowangi 34

November is coming. November with its 'heroes' day' commemorated on the 10th. :)

Sedikit berbeda dengan Segowangi bulan November tahun lalu -- yang mengambil tajuk "everyone is a hero" -- tahun ini kita lebih menekankan pada ucapan terima kasih pada para pahlawan kebersihan. Namun, khusus untuk liputan apa yang kita lakukan untuk tema ini, akan saya tulis di postingan yang berbeda. :)

Seperti biasa, kita berkumpul di Balaikota pukul 19.00. Kebetulan sedang ada konser musik Jazz di halaman dalam Balaikota. Mungkin karena cuaca yang 'kurang bersahabat'; hujan datang dan pergi; halaman Balaikota masih sepi.


Kita meninggalkan Balaikota sekitar pukul 19.30. Kita ambil rute ke arah Tugumuda - Jl. Sugiyopranoto - Jl. Jendral Sudirman - Jl. Puspowarno Raya - Jl. Pusponjolo Selatan - Jl. Simongan - Jl. Kaligarang - RSUP Dr. Kariadi - Jl. Veteran - Jl. Pahlawan - Simpanglima - Jl. Gajahmada - Jl. Depok - Jl. Pemuda - Balaikota.

Seperti biasa setiap segowangi bulan November, kita berfoto-ria di relief Taman Makam Pahlawan. Dan ... seperti dua November sebelumnya (tahun 2014 dan 2015), di akhir sepedaan keliling, kita menyalakan lilin dan berdoa untuk para pahlawan yang telah berjuang demi bangsa dan negara. Sekaligus berdoa semoga Indonesia tetap tenang damai, mengingat situasi politik yang akhir-akhir ini cukup hangat. (bukan hanya mereka yang berjubah putih saja kan yang boleh berdoa?)

Suwun kehadirannya rekan-rekan terpilih. :D See you in December yaaa?

IB180 13.33 07/12/2016















bingkisan untuk para pahlawan jalanan

Senin, 21 November 2016

Minggu Pagi Nanjak Sigar Bencah


Bahwasanya (tanjakan) Sigar Bencah terletak lumayan jauh dari tempat tinggalku, ini adalah alasan utama aku dan Ranz super jarang menyambanginya. J Entah mengapa kali ini Ranz mengiyakan keinginanku mencoba tanjakan yang konon lumayan menjadi momok bagi newbie, bukan karena curamnya, namun lebih karena tanjakan ini panjang meliuk dan penuh tipuan. LOL.



Hari Minggu 20 November 2016, kita berempat – aku, Ranz, Avitt dan Edy Wi – meninggalkan tikum – Lawangsewu pukul 07.00. aku dan Ranz tetap menaiki sepeda lipat kita, Austin dan Pockie, sedangkat Avit naik Ch3lo, sepeda balapnya, dan Edy naik sepeda yang bisa dia bawa turing. Kita mengambil rute Jalan Pandanaran – Simpanglima – Jalan Ahmad Yani – Jalan MT Haryono – Sompok – Pandean Lamper – Jalan Mrican. Kita sempat berhenti di ‘puncak’ tanjakan Kedungmundu karena rem Pockie bermasalah. Edy mencoba membetulkan rem Pockie.

soto bermangkuk gerabah
ujung jalan menuju Sigar Bencah yang rusak :(

Selepas pom bensin Kedungmundu, kita belok kanan ke arah Sambiroto. Di perempatan, kita belok kiri menuju Meteseh. Di ujung pasar Meteseh – jalannya sedang diperbaiki ternyata – kita berhenti untuk sarapan soto yang mangkoknya menggunakan bahan gerabah. Kita sampai disini pukul 08.00. :D

Usai sarapan, kita melanjutkan perjalanan. Sungguh di luar dugaan ternyata ujung jalan menuju Sigar Bencah itu sedang sangat amat buruk, berlumpur dan ada kubangan air disana sini sementara di pinggir jalan ada tumpukan material. Wew. Pasti licin dan jika sampai tak mampu menjaga keseimbangan tubuh, ampun dah, bakal jatuh ke kubangan lumpur. LOL.

Avitt di 'puncak' tanjakan Kedungmundu



Sekitar 2 tahun lalu aku dan Ranz pernah juga mencoba tanjakan Sigar Bencah ini, namun seingat kita jalannya baik-baik saja. Kita sudah lupa lewat jalan ini atau lewat jalan yang melewati perumahan Citra Grand. Dan ... ternyata aku juga lupa menuliskannya di blog. Perfecto! LOL. Waktu itu aku juga naik Austin, sedangkan Ranz naik Feby – sepeda BMX-nya, sebelum menjelma Hero. J

Ada dua alasan mengapa aku perlu berhenti di tengah tanjakan sekali. Pertama, agar aku tak terlalu meninggalkan Ranz yang ‘membimbing’ Avitt di awal-awal tanjakan Sigar Bencah. Kedua, tentu agar bisa memotret mereka menapaki tanjakan yang di bagian itu cukup curam. (heleh, aku lupa, ternyata ada ya beberapa bagian tanjakan Sigar Bencah yang lumayan curam? Kekekekekeke ...)

ini lucu yaaaa :D




Setelah melewati tanjakan Sigar Bencah, sampailah kita di kawasan Tembalang. Avitt mengajak kita mampir ke kampusnya, untuk ... mendokumentasikan keberadaannya di kawasan kampus bersama Ch3lo, sebagai bukti bahwa dia telah bike to campus. J

Siang itu sinar mentar cukup terik. Selepas meninggalkan kawasan kampus Tembalang, kita mencari satu warung tempat kita bisa membeli minuman segar. Untunglah kita melewati satu warung burjo! Kita pun mampir untuk membeli minuman.


Dari sana kita langsung turun menuju kawasan Tugumuda. Aku dan Edy langsung pulang, sedangkan Ranz dan Avitt mampir mbakso di Taman Gajahmungkur. (Aku harus buru-buru pulang karena sesuatu jadi ga bisa ikutan mampir mbakso.)

Next time, nyoba tanjakan Sigar Bencah naik Cleopatra ah. :D kali ini aku naik Austin karena semula Avitt bilang dia mau naik Polis, sepeda lipatnya. Ternyata, eh, ternyata dia naik sepeda balapnya. :D Avitt harus sering-sering latihan nanjak nih karena Ch3lo yang ringan belum begitu membantunya melibas tanjakan.


LG 13.17 21 November 2016