Jumat, 19 Januari 2018

Hello BJBR! And Going back home

Rangkaian mbolang Bromo dan Probolinggo 

Sabtu 30 Desember 2017 ~ Day 6

Ini adalah hari ‘ekstra’; hari dimana kita tetap stay di Probolinggo karena kita kehabisan tiket KA Sritanjung untuk balik ke Solo. Ada kereta lain, namun bukan kereta ekonomi, dan harga tiketnya sangat jauh di atas harga tiket KA Sritanjung. Oleh karena itu, Ranz memutuskan kita stay satu hari lagi di Probolinggo.

Dari sekian banyak tempat wisata di Probolinggo, setelah googling, selain Gili Ketapang, Ranz juga tertarik pada BJBR alias Bee Jay Bakau Resort. Mengapa ini? Mungkin karena kita bisa trekking disini sehingga Ranz memilih mengajakku kesini. Aku setuju saja. J

Seperti sehari sebelumnya, kita meninggalkan penginapan menjelang pukul delapan pagi. Dari pada bingung mau sarapan dimana, Ranz mengajakku mampir di warung sederhana tempat kita sarapan sehari sebelumnya, karena kebetulan untuk menuju BJBR kita kembali melewati pelabuhan Probolinggo. Aku pun tetap memilih menu yang sama : pecel dan tempe goreng.


Sebelum pukul sembilan pagi kita telah sampai di kawasan BJBR. Ranz sempat ragu-ragu jadi atau tidak kesini mengingat harga tiket yang cukup mahal. Menurut artikel yang dibaca Ranz sekian waktu lalu harga tiket masuk BJBR hanya Rp. 15.000,00. Dari harga limabelas ribu rupiah itu, mendadak naik menjadi Rp. 40.000,00. Wuih ... L Menikmati pemandangan kawasan mangrove alias hutan bakau namun kita harus merogoh kocek segitu rasanya kok mahal banget yak?





Namun, aku telanjur penasaran. LOL. What is it like? Dan, toh saat memperpanjang kamar penginapan dua malam kita bisa mengirit delapanpuluh ribu rupiah, kupikir ya imbang lah ya. Hihihi ...

Ketika kita sampai, di tempat penjualan tiket, ada tulisan bahwa harga tiket untuk tanggal 30 Desember 2017 sebesar Rp. 50.000,00; sedangkan untuk tanggal 31 Desember 2017 harga naik lagi menjadi Rp. 60.000,00. WHAATTT? Ada apa dengan penyelenggaranya; kok galau gitu menentukan harga tiketnya? LOL.

Mengetahui harga tiket naik sepuluh ribu rupiah dari yang semula diperkirakan, Ranz bertanya, “Gimana? Jadi ga? Harga tiketnya naik!”

Aku yang justru menjadi kian penasaran – ada apa di dalam BJBR – tetap bergeming : kita harus masuk BJBR. Meski sedikit ngedumel namun karena dia sudah telanjur menyuruhku memilih masuk atau tidak, Ranz pun membeli tiket masuk. LOL.

Hutan bakaunya mengingatkanku pada hutan bakau yang ada di Karimun Jawa. Waktu dolan ke KJ tahun 2011, dan bersepeda ke Pulau Kemojan, kita sempat masuk di ujung hutan bakau KJ. Namun karena ga tahu kira-kira seberapa besar hutan itu, dan kita masih ingin melanjutkan perjalanan menuju Kemojan, kita juga blank seberapa jauh kita harus mengayuh pedal sepeda (zaman kita belum familiar dengan GPS J) kita hanya foto-foto di luar, tidak menjelajah ke dalam.



Setelah trekking di kawasan hutan bakau BJBR, kita menyusuri trek sepeda di atas laut yang konon terpanjang di Indonesia. Sayangnya, kita tidak diperbolehkan membawa sepeda kita masuk. Plus, ada sepeda yang kita lihat di dekat trek sepeda itu, tapi terkunci. Jika memang kita harus menyewa, tidak ada petugas yang melayani pengunjung yang akan menyewa sepeda. Walhasil, kita tidak naik sepeda di sepanjang trek sepeda di atas laut itu; seperti pengunjung lain, kita hanya berjalan.

our brunch; french fries Rp. 15.000,00 orak-arik pare Rp. 25.000,00, es milo Rp. 25.000,00, di resto dalam BJBR

Hujan sempat turun sekitar pukul 12.00. Untunglah kita sampai di satu lokasi dimana kita bisa berteduh.

saat gerimis turun, saat kita menemukan tempat berteduh


banyak spot foto di dalam BJBR



'pantai buatan' dalam BJBR

Kita keluar dari kawasan BJBR menjelang pukul tiga sore. BJBR buka sampai malam, kita bayangkan pasti lampu-lampu yang disediakan bakal membuat suasana kian eksotis. Namun kita sudah lelah. Apa boleh buat?

Malamnya kita mampir makan malam di rumah makan yang sama; aku kembali memesan capcay goreng; Ranz hanya geleng-geleng kepala melihat aku yang sama sekali tidak kreatif. LOL.

Usai makan malam, Ranz bersedia menemaniku night ride sambil mencari tempat fotocopy. Dia harus ngeprint scan KTP-nya untuk naik kereta api, karena KTP-nya ketinggalan di rumah. :D Malam itu kita bersepeda sekitar 15 kilometer sebelum balik ke penginapan dan mulai packing; keesokan hari kita akan meninggalkan Probolinggo.

Minggu 31 Desember 2017 ~ Day 7

Saat orang-orang ber’last Sunday ride’, aku dan Ranz juga bersepeda, tapi dari penginapan menuju stasiun Probolinggo. :D

Kereta yang kita naiki menurut jadual meninggalkan stasiun pukul 11.00. itu sebabnya pagi itu kita masih santai di penginapan sampai sekitar pukul delapan pagi. Setelah berpamitan kepada petugas yang jaga di lobby penginapan, kita meninggalkan homestay yang terletak di Jl. Suyoso itu.

Dalam perjalanan menuju stasiun, Ranz mengajakku mampir ke satu warung yang salah satu menu yang disediakan adalah pecel. Ranz kali ini hanya menontonku makan. :D selesai sarapan, kita menuju stasiun yang terletak sangat dekat dengan alun-alun kota Probolinggo. Sebelum masuk stasiun, Ranz mampir ke satu gerai fast food membeli ayam goreng tepung untuknya brunch.



KA Sritanjung datang tepat waktu, dan meninggalkan stasiun juga sesuai dengan jam yang tertera di tiket; pukul 11.00.

Kita sampai di stasiun Purwosari menjelang pukul tujuh malam. Semula aku ingin langsung pulang ke Semarang dengan naik bus dari Kerten. Namun ternyata sesampai Solo aku super lelah dan lapar. Aku bayangkan jika aku naik bus dan tidak mendapatkan tempat duduk sampai Semarang, saking penuhnya penumpang, dalam perjalanan aku bakal pingsan. LOL. Untuk mengantisipasi itu, aku pun menginap semalam terlebih dahulu di rumah Ranz. Tanggal 1 Januari 2018 sebelum pukul setengah enam pagi aku telah berada dalam bus menuju kota Semarang.

Sampai bertemu di petualangan Nana dan Ranz berikutnya yaaa.


LG 14.26 16012018 

Mengunjungi Gili Ketapang nan Cantik

Rangkaian dolan Bromo dan Probolinggo

Jumat 29 Desember 2017 ~ Day 5


spot foto yang menyambut kita di Pantai Barat Gili Ketapang

Hari ini agenda Ranz adalah mengajakku ke Gili Ketapang; satu pulau kecil yang terletak tak jauh dari Probolinggo. Aku tidak begitu tahu alasannya memasukkan agenda ini dalam rangkaian mbolang kita ke Bromo, kecuali bahwa dia paham aku sangat menyukai pantai. (who doesn’t? LOL.)

Sebelum meninggalkan penginapan, kita memperpanjang masa menginap di homestay tersebut. Mengapa kita tidak langsung menyatakan menginap sampai tanggal 31 Desember waktu kita datang kemarin sore? Well, ketika kita datang, ada seorang perempuan paruh baya yang sedang berada di ruang ‘lobby’ penginapan. Waktu si petugas bertanya, “Apakah kedatangan njenengan ini langsung kesini atau sudah booking lewat booking.com? Ranz menjawab, “Kita sudah booking online.” Si petugas menjawab, “Seratus sembilanpuluh ribu rupiah.” Harga yang tertera di web booking.com

Tanpa kita sangka, si perempuan paruh baya itu menyahut, “Kalau mau kesini tidak usah booking online, karena kalau booking, harganya lebih mahal.” Satu hal yang langsung membuat Ranz patah hati. LOL.

“Memang kalau tidak booking dulu harga per kamar berapa?” tanyaku penasaran.

“Seratus limapuluh ribu,” jawab si petugas. Fixed! Ranz patah hati. LOL.

“Kita booking online karena khawatir homestay ini bakal penuh, mengingat akhir tahun termasuk peak season untuk berlibur,” kataku.

Si perempuan paruh baya itu tertawa. “Disini ga mungkin penuh lah Mbak ... kan kamarnya banyak!” katanya.

Oke. Jadi inilah alasan Ranz untuk tidak langsung membayar untuk menginap 3 hari. Dan, syukurlah, ketika memperpanjang penginapan dua hari lagi, kita mendapat harga yang bersahabat, ‘hanya’ seratus limapuluh ribu rupiah per malam. J

Pukul delapan pagi kita meninggalkan penginapan, setelah membayar. Dari google maps kita mendapatkan info bahwa untuk menyeberang ke Gili Ketapang, kita menuju pelabuhan.

On the way menuju Probolinggo, kita mampir ke satu warung makan yang terletak hanya di seberang pelabuhan: aku butuh sarapan! J Aku memilih nasi pecel dan tempe goreng. Untuk minum, kita hanya beli satu botol air mineral 600 ml. Ranz yang belum lapar, dia hanya mencomot tempe di piringku. :D

Usai sarapan kita menuju pelabuhan. Karena belum tahu pasti di dermaga sisi mana pemberangkatan menuju Gili Ketapang, kita mengayuh pedal sepeda pelan-pelan. Dan ... ternyata kita menarik perhatian orang-orang yang memang tugasnya mencari penumpang perahu menuju Gili Ketapang.
Sebelum sampai ujung dermaga, seseorang menyeru menyapa kita, “Mau ke Gili Ketapang kah?” Kita pun langsung mendekati orang itu. Dia menunjukkan lokasi tempat kita bisa menitipkan sepeda. “Tapi kita mau membawa sepeda!” kata Ranz.

“Oh, mau dibawa? Boleh saja. Biayanya Rp. 25.000,00” jawab orang itu. Ini adalah harga untuk sekali menyeberang. Ok, deal. Dan ... ternyata, biaya duapuluh lima ribu rupiah ini adalah untuk dua orang dan dua sepeda lipat. WUIIIIIIH ...

penampakan Astro dan Austin dalam perahu

Perahu yang kita gunakan untuk menyeberang adalah perahu nelayan biasa, modelnya berbeda dengan perahu yang digunakan menyeberang dari Jepara menuju Pulau Panjang, maupun dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan. Di perahu dari Jepara ke Pulau Panjang ada tempat duduk berderet yang bisa dipakai duduk penumpang; sepeda bisa kita selipkan di antara tempat duduk ini. Demikian juga dengan perahu moda transportasi kita menyeberang menuju Gili Trawangan. Di Probolinggo ini, di atas perahu ada semacam tripleks tempat duduk para penumpang (kita duduknya lesehan), di bawah tripleks terletak mesin yang menggerakkan perahu. Di ujung depan perahu ada space untuk meletakkan sepeda. Waktu itu, selain Austin dan Astro, ada sebuah sepeda lagi yang ‘duduk manis’ disitu; sepeda milik seorang penjual yang mencoba mengadu nasib berjualan di Pantai Barat Gili Ketapang.

Dari artikel di web yang telah dibaca Ranz sebelum berangkat, kita tahu bahwa di Gili Ketapang kita akan menemukan kendaraan bermotor, satu hal yang tidak kita temukan di Gili Trawangan, maupun Pulau Panjang. Maklum, Pulau Panjang tidak ada penduduk yang menetap disitu, kecuali beberapa orang yang membuka warung makan disitu.

Waktu kita naik perahu, kupikir perahu sudah cukup penuh penumpang. But I was wrong. Perahu masih terus ngetem; calo terus mencoba mencari penumpang lain. L 15 menit kemudian, baru ada tanda-tanda perahu diberangkatkan. Yuhuuu ...

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Terus terang, aku cukup ketar ketir khawatir perahu terlalu penuh penumpang hingga terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan. Untunglah, 45 menit kemudian kita sampai di pantai Gili Ketapang safe and sound. :D

Setelah ‘menyeberang’ dari perahu menuju dermaga, beberapa nelayan yang sedang sibuk melakukan sesuatu memberi petunjuk jika kita ingin memutari pulau Gili Ketapang, kita belok kanan terlebih dahulu; jika langsung ingin ke Pantai Barat kita bisa langsung belok kiri.

Ranz sedang menaikkan Astro dari perahu

dekat dermaga

Kita pun belok kanan; sembari membayangkan pulau ini dibangun seperti Gili Trawangan, maupun Pulau Panjang; ada satu badan jalan yang dibangun sehingga kita bisa mengelilingi pulau. Ketika kita sampai di kawasan pemukiman, astagaaahhh ... pemukiman di pulau ini sangat padat! Jalan yang kita lewati sangat sempit, hanya cukup dilewati satu becak dan papasan sebuah sepeda! Dan ... harapan bahwa jika kita belok kanan, kemudian menapaki jalan ‘utama’ kita bakal sampai di Pantai Barat (yang bisa kita capai dari dermaga dengan belok kiri) ternyata KELIRU. Kekekekeke ... setelah berputar kesana kemari, akhirnya kita ‘menyerah’; kembali mengayuh pedal ke arah dermaga tempat kita datang; untuk kemudian menuju jalan yang akan ‘berujung’ di Pantai Barat. :D

Sesampai Pantai Barat, waaahhh ... pantai ini syantiiiik! Pasirnya berwarna putih dengan air laut bening berwarna hijau kebiruan. Langsung aku merasa seperti berada di satu pantai di Pulau Bali! LOL.



Satu kegiatan yang biasa ditawarkan di pantai Gili Ketapang ini adalah snorkeling. Ranz menawariku apakah aku ingin mencobanya, oleh karena itu aku membawa baju renang dan kacamata renang. Namun sesampe disana, ternyata mereka yang datang ke Gili Ketapang untuk snorkeling, mereka sudah booking terlebih dahulu, dan biasanya dalam grup. Dan ... berhubung melihat pantai ini bisa dinikmati begitu saja tanpa perlu snorkeling, aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku dan Ranz hanya berfoto-foto di pinggir pantai. Kemudian, agar baju renang yang kubawa tidak mubazir, aku pun menyempatkan diri main air sejenak. Ga pake lama, agar warna kulitku tidak bertambah eksotis. LOL.



Membayangkan menyaksikan sunset di pantai ini sebenarnya cukup membuatku ngiler. Pasti cantik sekali! Tapi perahu terakhir menyeberang kembali ke Probolinggo jam empat sore. Mau menginap disitu malam itu, duh ... mubazir deh kamar di homestay Suyoso yang telah kita bayar. LOL. Well, sebenarnya salah satu penjual lokal disitu memberitahu masih ada perahu yang akan kembali ke Probolinggo jam enam sore; namun jam segitu angin yang berhembus tidak begitu aman. Apa boleh buat? Bye bye sunset ...



Ranz yang bahagia mendapatkan lokasi untuk memasang hammock :D 

Sekitar pukul setengah tiga sore aku dan Ranz memutuskan untuk kembali. Kali ini kita menuju dermaga yang berbeda dengan tempat kita datang. Waktu sampai disana, ada sebuah perahu yang akan membawa para penumpang ke Probolinggo. Aku dan Ranz langsung naik, memilih tempat duduk yang di depan, karena Ranz ingin mengabadikan jalannya perahu dengan kameranya.

Ketika kita naik perahu baru terisi penumpang setengah. Bisa dibayangkan kita harus menunggu cukup lama, lebih dari 30 menit. Selama lebih dari 30 menit (menunggu) dan 45 menit (perjalanan) di atas perahu yang bergoyang-goyang, cukup membuat kepalaku berputar; untung ga sampai mabuk laut. (Dulu, waktu boat ride di Karimun Jawa, aku sempat mabuk laut. Hahahaha ...)


Akhirnya perahu meninggalkan dermaga pulau Gili Ketapang, sekitar pukul setengah empat. Baru juga 10 menit berlayar, terlihat perubahan warna langit; udara yang semula cerah, matahari bersinar begitu garang, mendadak mendung. Satu hal yang aku syukuri : kita tidak menyia2kan kamar yang telah kita sewa di Probolinggo untuk menginap semalam di Gili Ketapang, karena ternyata menjelang waktu matahari tenggelam, cuaca mendadak berubah secara ekstrim! Satu hal lain yang membuatku khawatir adalah bagaimana jika dalam perjalanan mendadak turun hujan badai? Perahu yang kita naiki kecil, meski penumpang tidak sepenuh pagi hari.

Untunglah sampai kita tiba kembali di dermaga Pelabuhan Probolinggo hujan tidak turun, meski mendung yang menggantung sangat gelap. Hujan baru turun setelah kita kembali ke penginapan. Yuhuuuu ...

Sekitar pukul tujuh malam, hujan belum reda, rasa lapar memaksa kita keluar. Malam ini, lagi-lagi aku mengajak Ranz ke rumah makan yang menyajikan Chinese food, sama seperti malam sebelumnya. :D Ketika aku akan memesan menu yang sama – capcay – ternyata Ranz protes, “Kamu ga bosen toh?” hahahahahah ... walhasil, aku memilih menu yang berbeda, meski rasanya tidak jauh beda : sapo tahu. Sedangkan Ranz hanya memesan onion ring; cemilan doang inih. :D

onion ring dan sapo tahu 
bakso dengan ketupat, maksi kita di Gili Ketapang :D


Selesai makan malam, otw balik ke penginapan, Ranz mampir ke satu penjual tahu telur di ujung jalan Suyoso. Dia memesan satu bungkus tahu telur tanpa lontong. Namun, berhubung dia kebelet ****, dia pulang ke penginapan duluan, aku menunggu hingga pesanannya siap. Setelah pesanan Ranz jadi, aku ga langsung pulang, aku menyempatkan diri muter sekitar 5 kilometer, meski harus mengenakan mantel gegara hujan. LOL. Di Gili Ketapang kita tidak bersepeda jauh sehingga aku merasa masih butuh menggerus lemak di tubuh. LOL.

To be continued ...

Senin, 15 Januari 2018

Dolan Bromo dan Probolinggo ~ Day 4

Kamis 28 Desember 2017 ~ Day 4

Rencana Ranz semula hari ini adalah turun ke arah Sukapura; di pertigaan kita akan belok kiri (kalau kanan langsung ke arah Probolinggo); untuk mampir ke Air Terjun Madakaripura. Namun mengingat kondisi tubuh Ranz yang tidak begitu fit, plus kita khawatir jalan menuju Madakaripura – yang katanya berjarak 5 kilometer dari jalan raya – ternyata mendaki curam, aku bilang ke Ranz kita tidak usah ngoyo. Next time jika ada waktu luang dan umur yang panjang, kita bisa balik lagi.

persiapan meninggalkan Cemara Lawang



Pukul setengah tujuh kita mulai siap-siap. Hawa dingin yang terus mencekam membuat kita super malas mandi, karena air panas yang tidak mudah kita dapatkan. :D sekitar pukul tujuh, sarapan diantar ke kamar kita. Aku mengajak Ranz menyantap sarapan kita di ruang tamu. Kali ini menu sarapan kita sama dengan sehari sebelumnya : nasi goreng (yang sama sekali tidak pedas) dengan telur ceplok.

Usai sarapan, kita mulai memasang pannier ke sepeda lipat masing-masing. Pukul delapan kita meninggalkan homestay View Bromo. Sebelum turun ke arah Sukapura, kita memotret diri di pertigaan yang ada petunjuk BROMO. J aku dan Ranz sama-sama saling mengingatkan untuk berhati-hati, ga perlu ngebut, mengerem dengan semestinya, jika dirasa kampas rem mulai bermasalah, mending kita berhenti.

15 kilometer dengan turunan yang cukup tajam tidak serta merta kita bisa melibasnya dalam waktu singkat. Ya karena itu tadi, kita merasa wajib berhati-hati. Dalam perjalanan sesekali kita disalip jeep yang telah meninggalkan kawasan Bromo, namun juga sesekali berpapasan dengan jeep yang menuju Bromo.

kabut kembali menyapa otw ke Sukapura

Lima kilometer pertama, ketika menjelang pertigaan yang cukup tajam, kita berhenti. Rasanya tegang juga terus menerus menekan rem. Kebetulan disitu ada satu warung kecil, kita beli teh panas sambil beristirahat.

Menjelang meninggalkan warung kecil itu, kabut datang lagi. semula kabut hanya memenuhi daerah jurang di sisi badan jalan yang kita lewati. Sekian ratus meter berikutnya, yang kita khawatirkan terjadi : kabut bergeser, kali ini memenuhi badan jalan yang kita lewati! Waaaaw ... Kita benar-benar kudu ekstra hati-hati!

Sepanjang perjalanan turun ini aku ingat seorang kawan sepeda dari Jogja yang mengalami kecelakaan saat menapaki turunan dari Dieng menuju Wonosobo; dia pun naik downtube nova waktu itu. Hal ini membuatku tidak membiarkan diri terlena pada turunan yang nampak gampang namun membahayakan.

spot foto yang instragrammable ini milik sebuah hotel dan resto yang terletak di seberangnya :)

Oh ya, trek Cemara Lawang – Sukapura tidak melulu turunan lho, di beberapa titik juga ada tanjakan. Ketika bertemu tanjakan ini aku langsung ingat bahwa pahaku super pegal! LOL. Duuuh ... benar-benar ga bisa mampir Madakaripura nih jika kayak gini. Bertemu tanjakan yang ga seberapa saja langsung menciut hatiku. LOL.


salah satu pemandangan yang membuatku ingin kembali 

Aku dan Ranz sangat bergembira ketika akhirnya kita sampai di pasar Sukapura; yeaaay ... pertigaan Sukapura yang kita rindui sebentar lagi kita capai! LOL. Entah mengapa ada rasa haru waktu melihat warung BAKSO IGA yang sempat kita samperi dua hari sebelumnya; tempat kita makan satu mangkuk berdua sembari beristirahat, ngos-ngosan setelah melewati tanjakan. LOL. Kita telah kembali! Namun rasa haru ini juga bercampur dengan rasa sedikit enggan; tak lama lagi kita akan sampai di kawasan yang tidak lagi berhawa dingin. LOL.

Setelah melewati pertigaan Sukapura; kita cenderung menikmati turunan dengan sepuasnya. Turunan yang tidak begitu tajam, meski di awal juga berkelok-kelok membuat kita terkadang melupakan rem. LOL. Menapaki jalan yang kita lewati dengan tertatih-tatih dua hari sebelumnya cukup membuatku terharu pada diri sendiri, kekekeke ... (Eh, padahal semalam kita sempat berdiskusi apakah sebaiknya kita mencari angkutan umum saja dari Cemara Lawang menuju Sukapura. Ternyata kita bisa menuruni trek tajam itu dengan baik!)


Menjelang pukul 11.00 kita telah melewati terminal Probolinggo. Kita sudah hampir sampai pusat kota! Ranz mengajakku mampir di satu minimarket untuk membeli minuman. Hmmm ... terakhir kita minum di warung kecil di pertigaan, dimana kemudian kita disapa kabut.
Memasuki kota Probolinggo, Ranz mengajakku (lagi) mampir makan siang disatu gerai fast food; aku memesan chicken steak, Ranz pesan ayam goreng. Waktu menunggu pesanan kita datang, seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri kita. Dengan ramah dia menyapa, "Kemarin saya lihat njenengan berdua di Bromo dengan naik sepeda! Saluuut!" Waaahhh ... :) Jadi (ingin) malu. LOL. Kemudian kita sempat ngobrol sejenak, sebelum dia kembali ke tempat duduknya.

Usai makan siang, kita langsung menuju Jalan Suyoso, kita kembali ke homestay tempat kita menginap hari Senin 25 Desember 2017.

menu makmalku

Sesampai penginapan, aku langsung mandi! Sejak sehari sebelumnya kita tidak mandi. LOL. Setelah itu kita beristirahat. Sorenya kita keluar, melihat suasana Probolinggo sore hari, night ride sejauh kurang lebih 15 kilometer, kemudian kita mampir satu rumah makan untuk makan malam. Kita mampir di satu rumah makan yang terletak tak jauh dari alun-alun Probolinggo, yang memajang jenis menu yang mereka tawarkan di depan bangunan; sebagian besar menu itu berupa Chinese food. Aku memesan capcay dan jeruk hangat,  sedangkan Ranz pesan nasi goreng seafood. Di menu yang tersedia di meja, ada harga yang tertera sehingga jelas, beda dengan saat kita makan malam pertama di Probolinggo Senin 25 Desember 2017. :D


To be continued. 

Jumat, 12 Januari 2018

Dolan Bromo dan Probolinggo - Day 3

BROMO : WE ARE COMING!


Rabu 27 Desember 2017 ~ Day 3

Hujan deras semalam sempat membuatku ragu-ragu, pagi ini sang mentari bakal terlihat jelas ga ya? Atau langit bakal disaput mendung kelabu? Que sera sera aja deh.

Pukul setengah tiga dini hari aku sudah melek. Aku melongok keluar, sesekali kulihat jeep lewat. Waaah ... para pemburu sunrise Bromo sudah mulai menuju lautan pasir Taman Nasional Bromo Tengger Semeru!

Menjelang pukul tiga aku dan Ranz sudah siap ikutan memburu sunrise. (Tumben Ranz ga sulit diajakin berburu sunrise. Hihihi ... waktu kita di Bali dan Gili Trawangan, aku harus menyeretnya keluar, dan sambil mata merem mengayuh pedal sepeda menuju pantai. LOL.)

Mendekati gapura masuk Taman nasional Bromo Tengger Semeru, puluhan jeep antri. Dengan lincah kita menyelip-nyelip di antara mereka.

Setelah membeli tiket di dekat gapura, kita menapaki jalan menurun, menuju lautan pasir. ‘Rute’ menuju kawasan gunung Bromo dan gunung Batok dan dilanjut menuju Pananjakan penuh dengan jeep dan motor. Para pengunjung yang gagah berani naik motor sendiri-sendiri, sebagian yang lain naik ‘ojek motor’ (mungkin ingin lebih merasakan petualangan ketimbang naik jeep).

Meski baru pertama kali kesitu, dan dalam keadaan gelap gulita, kita tidak akan tersesat karena pada jam-jam menjelang Subuh, rute itu penuh dengan pengunjung. Mataku belor, tapi mata Ranz justru sangat awas di kegelapan seperti itu.

Hujan deras semalam menyebabkan kubangan berisi air di beberapa spot. Namun, di bagian lain, lautan pasir itu justru lebih ‘bersahabat’ dilewati, terutama oleh motor maupun sepeda onthel karena pasirnya padat! There is always blessing in disguise! LOL.

Melewati lautan pasir, kemudian menuju Pananjakan, duh ... namanya juga P-A-N-A-N-J-A-K-A-N; tanjakan mulu daaah. Karena trek yang tidak lebar itu penuh jeep, aku dan Ranz dengan khusyu’ dan rela hati menuntun Austin dan Astro. LOL.

kabutnya super tebal :D

Entah seberapa jauh kita menapaki trek menuju Pananjakan itu, sampai kita tiba di satu titik macet. Whe lhaaaa ... macet tidak hanya di kota besar toh? L Mobil jeep berderet-deret berhenti. Sebagian penumpang turun dan memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Padahal jika kita melihat ke atas, ujung Pananjakan masih cukup jauh. Mata belorku tentu tidak bisa melihat, tapi aku bisa melihat kerlap kerlip lampu dari jeep yang berjalan menapaki tanjakan!

Ranz akhirnya mengajakku berhenti di satu titik ketika dia melihat kita akan menapati turunan, sebelum kemudian menanjak lagi. “I am exhausted enough! Ogah kalo setelah ini kita harus turun, untuk kemudian nanjak lagi!” katanya. Aku setuju saja. Sudah lelah. LOL.

Aku melihat di daerah sekitar kita ada banyak orang yang nampaknya juga sudah ‘menyerah’ untuk melanjutkan perjalanan. Sebagian sudah mulai memasang tripod, berharap bisa menjaring sunrise. Waktu menunjukkan pukul 04.40. hmmm ... sebentar lagi matahari terbit nih.

Suasana benar-benar ramai di sekitar situ. Banyak juga ojek orang lokal yang terus menerus menawari ojek buat mereka yang mungkin masih ingin lanjut ke puncak Pananjakan. Yang paling menarik adalah tawaran, “Ojek toilet, yak, ojek toilet. Mari yang kebelet, cukup duapuluh ribu rupiah saja!” wow ... kekekekeke ... Selain para ojekers, ada juga yang menawari minuman, kopi, teh, dll. Wah ... pastinya asyik ya minum kopi di gunung? Tapi, entah mengapa, aku tidak membeli.

Sementara menunggu saat sang mentari muncul, berharap-harap cemas pagi itu, kawasan Bromo akan cerah, ternyata yang datang menyapa adalah ... KABUT! Yes, kabut dataaaang! Awalnya sih cantik, lama-lama kian menebal, (tambah cantik dong yak? Hihihi ...) Dan ... kabut yang tebal itu pun kemudian meneteskan air sedikit demi sedikit. Hwaaaaaaaa ... LOL. Our lucky morning! J

Kondisi gelap di langit dan kabut di sekitar kita terus menerus hingga kulihat waktu menunjukkan pukul setengah enam! Ok, fixed, saat sang mentari muncul telah berlalu. LOL. Ranz pun mulai mengajak turun.

Baru beberapa meter turun, kita bertemu dengan penjual gorengan. Kebetulan yang sudah tersedia di lapak adalah pisang goreng! Waaahhh ... lumayan nih! Kita pun berhenti, dan ngemil pisang goreng. “Sepuluh ribu tiga!” kata si penjual kepada seorang calon pembeli. WHATTT? Baiklah, gapapa. Ini di gunung, dalam kondisi berkabut dan menjelang hujan. Sudah untung kita bisa menemukan penjual pisang goreng. Harga sepuluh ribu untuk tiga biji pisang goreng pun terdengar masuk akal. LOL.


Setelah ngemil tiga biji pisang goreng (aku makan dua, Ranz satu), kita melanjutkan menuruni trek yang ada. Berhubung turunan yang ada sangat curam, dan basah, ditambah lagi, jeep-jeep yang antri turun, kita memilih menuntun sepeda dengan tabah. LOL.

Sesampai lautan pasir, langsung terlihat Gunung Batok yang berdiri anggun. Waaaah ... aku langsung memotret Austin dengan latar belakang Gunung Batok. Aku dan Ranz pun mampir ke satu warung yang ada. Aku beli secangkir kopi hitam, Ranz beli secangkir milo. Selain itu, kita juga pesan satu porsi mie instan goreng untuk berdua. (Duh, sejak kemarin kita mengkonsumsi makanan yang tidak sehat mulu. L)

Di daerah itu, ada beberapa tenda dengan warung-warung orang lokal yang mengais rezeki dari para pengunjung. Si Ibu yang kita samperin cerita dia berangkat kesitu setelah hujan lebat berhenti semalam sebelumnya sekitar pukul sepuluh malam. Di tiap tenda yang ada, kulihat ada perapian yang dibuat untuk menghangatkan badan.


Usai menghabiskan minuman dan mie instan yang kita pesan, kita kembali mengayuh pedal. Lautan pasir yang pasirnya memadat sungguh menyenangkan buat kita lewati; meskipun kadang aku tetap hampir terpeleset. LOL. Setelah melewati Gunung Batok, kita pun melihat penampakan Gunung Bromo. Berderet-deret jeep terparkir di samping patok-patok kayu yang dipasang. Mungkin itu semacam garis yang boleh dilewati jeep. Untuk menuju (kawah) Gunung Bromo, pengunjung boleh naik motor, naik sepeda, naik kuda, atau jalan kaki.


Untuk kali pertama aku baru ‘ngeh’ keberadaan pura yang terletak di antara Gunung Batok dan Gunung Bromo itu. (pertama tahu dari beberapa travel agent yang menawarkan paket tour ke Bromo yang menyebut pura sebagai salah satu destinasi.) Kita terus menaiki sepeda dari patok pembatas menuju Gunung Bromo. Aku mengajak Ranz berhenti di depan gapura pura. Ranz menunggu di luar, aku masuk ke kawasan dalam pura. Aku masuk sampai di bagian dalam, dimana ada altar sesajian dan beberapa orang yang mengenakan busana ala orang Bali yang kutengarai mereka sedang melakukan sembahyangan. Aku sempat memotret sampai tiba-tiba aku ditegur seseorang dengan nada suara yang kurang enak didengar. “Siapa yang memberi izin Ibu untuk masuk kesini dan memotret?” Duh ... ternyata ga boleh toh? Hihihi ... Setelah minta maaf, aku langsung ngacir keluar. Aku ga bawa kamera sih, Cuma memotret menggunakan tab yang kubawa.

Di luar, Ranz menungguku dengan sabar. Setelah aku bercerita apa yang terjadi di dalam, dia langsung mencela, “Kamu itu loh ... mbok lihat-lihat suasana dulu!” kekekekeke ...

Kemudian kita kembali mengayuh pedal sepeda, mendekat ke arah kawah Bromo.

Melihat tangga menuju kawah Bromo yang cukup tinggi dan ramai pengunjung, Ranz sedikit ragu-ragu. Hmmm ... sering di saat kita mbolang, Ranz ragu-ragu menuruti keinginanku mengunjungi satu lokasi dimana kita harus naik tangga yang tinggi. Contoh : waktu kita lewat Lasem tahun 2012 dulu dan aku ingin ke Pasujudan Sunan Bonang. Saat itu, aku harus cukup puas dengan berfoto di bawah tangga, di depan gapura selamat datang. Waktu kita ke Situs Ratu Baka pertama kali di event Joglo Attack, dia awalnya juga keberatan kuajak masuk, meski akhirnya kita tetap masuk waktu itu.

Meski ragu, Ranz tetap menuruti keinginanku. Sebelum mendekat ke arah kawah Gunung Bromo, kita ditawari seorang tukang ojek untuk memarkir sepeda di satu warung yang ada di daerah itu. Kita pelan-pelan berjalan ke arah kawah, di tengah-tengah pengunjung lain yang banyak juga yang naik kuda. Ternyata Ranz tetap ga yakin apakah dia akan terus mendaki gunung untuk melihat kawah Gunung Bromo. Karena aku sudah pernah kesana dua kali, dan aku khawatir Ranz bakal kelelahan, aku mengalah; membiarkan Ranz mengambil keputusan untuk lanjut atau balik.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, Ranz akhirnya mengajakku kembali. Ini dengan catatan dia akan mengajakku kembali ke Bromo di kesempatan lain. J ok, deal. J


Kita balik ke warung tempat kita menitipkan Austin dan Astro. Kita sempat duduk-duduk di situ sembari menikmati gorengan. Si penjaga warung yang ternyata keturunan suku Tengger bercerita tentang bahwa tidaklah benar jika ada yang mengatakan orang-orang suku Tengger adalah keturunan orang-orang Hindu Majapahit yang melarikan diri dari kerajaan setelah Majapahit dikalahkan oleh kerajaan Demak. Suku Tengger sudah ada sebelum Majapahit runtuh. Dia juga bercerita tentang beberapa presiden yang pernah berkunjung ke Bromo dengan gayanya masing-masing. J Ternyata salah satu (eks) presiden ada yang pernah memaksa para orang-orang lokal untuk berhenti berjualan di kawasan lautan pasir situ agar hanya ada turis di daerah itu. Hmmm ... bukankah para pengunjung dan orang-orang lokal itu merupakan partner yang baik ya? Para pengunjung butuh beli makanan dan minuman, orang-orang lokal butuh mencari penghasilan.


15 menit kemudian kita melanjutkan perjalanan, kembali mengayuh pedal sepeda melewati lautan pasir lagi. Banyak mobil jeep dalam perjalanan kembali ke arah Cemara Lawang / Sukapura, kita tinggal ngikut trek yang tertinggal. Ranz mengajakku ke satu spot yang pernah menjadi kontroversial karena dianggap merusak pemandangan lautan pasir yang ada, namun toh tetap menjadi rebutan untuk berfoto. J Dari sana, Ranz langsung mengajakku kembali ke Cemara Lawang, tidak mencoba mencari trek menuju Bukit Teletubbies maupun Pasir Berbisik.

Menjelang Cemara Lawang, kita harus menapaki tanjakan yang cukup melelahkan, jika tubuh telah ‘lungkrah’ dikarenakan gowes Sidoarjo ke Probolinggo kemudian lanjut Probolinggo menuju Cemara Lawang, dan dini hari keesokan harinya masih lanjut menuju Pananjakan. Hanya di awal tanjakan kita sempat mengayuh pedal, ketika kita sudah kelelahan, berhenti untuk beristirahat, selanjutnya kita memilih menuntun sepeda kita saja. Saat ini Ranz mulai mengeluh dengkulnya sangat sakit. Berjalan kaki sambil menuntun sepeda lebih sakit untuk dengkulnya, namun mau gowes tenaga sudah habis. Aku pun mengambil inisiatif menuntun Austin dan Astro gantian, agar Ranz hanya ‘terbebani’ tubuhnya sendiri berjalan tertatih menapaki tanjakan.


Untunglah tanjakan itu tidak panjang, mungkin hanya sekitar 1 kilometer. Selama menuntun, kemudian berhenti untuk menata nafas, kita bisa memandang hamparan lautan pasir di bawah dengan Gunung Batok dan Gunung Bromo dari kejauhan.

Setelah sampai Cemara Lawang, kita langsung kembali ke penginapan, setelah membeli tolak angin di satu mini market yang ada di pertigaan. Ini sekitar pukul 11.00. Di homestay, oleh si pemilik penginapan, kita langsung disodori sarapan berupa nasi goreng dan telur ceplok. Kebetulan waktu datang itu ada sepasang turis yang akan menyewa jeep untuk ke Kawah Bromo, Pasir Berbisik, dll; karena mereka hanya berdua, yang menyewakan jeep menawari apakah kita akan bergabung, share biaya. Aku tergoda, namun Ranz yang telah merasa tubuhnya tidak sehat menolak dengan halus.

Setelah sarapan di ruang tamu, minum tolak angin, Ranz langsung masuk kamar dan meringkuk di bawah selimut. Suhu tubuhnya meningkat. L Dia tidak hanya butuh dipijat di bagian punggung dan kaki, namun juga harus dikerokin. L L Aku kerokin punggungnya menggunakan counterpain. Pahanya juga kubalurin counterpain. Setelah itu dia tidur.

Sekitar pukul setengah tiga sore, suhu tubuh Ranz semakin meninggi. L Ini gawat. L kutawari kucarikan paracetamol di minimarket yang ada. Ranz pesan jika tidak ada paracetamol, dia minta kubelikan panadol karena di dalamnya ada paracetamol-nya.

Cemara Lawang cukup sepi di sekitar jam tiga sore itu. Kawasan ini justru rame saat dini hari, di jam orang-orang berburu sunrise mempersiapkan diri menuju Pananjakan / kawah Bromo. Aku lesu. Memang kita ga perlu buru-buru meninggalkan Cemara Lawang, bisa menunggu sampai kondisi Ranz membaik, toh kita pesan tiket kereta kembali ke Solo tanggal 31 Desember 2017.

Setelah kembali ke penginapan, kuminta Ranz langsung meminum panadol yang kubelikan. Sesudah minum panadol, kubiarkan Ranz tidur lagi.

Ranz bangun sekitar pukul enam sore; good news karena dia merasa tubuhnya membaik. Syukurlah. Bahkan dia mengajakku keluar mencari makan. Di malam kedua kita di Cemara Lawang ini kita (akhirnya) jadi beli sate ayam. Jika sehari sebelumnya kita melihat antrian pembeli yang cukup panjang, sore itu tidak ada yang antri. Waktu menunggu pesanan kita siap, kita melihat satu keluarga bule, ayah ibu dan satu anak laki-laki mendekat, bertanya si penjual jualan apa. Demi merayu si keluarga bule ini mau beli, si penjual menawari si anak untuk mencicipi satu tusuk satenya. J rasanya lumayan enak sih. Seperti biasa, kita beli satu porsi yang berisi 10 tusuk sate dan lontong untuk berdua. Harganya masuk akal sih, Rp. 20.000,00.

Usai makan sate, kita berjalan kaki kembali ke penginapan. Waktu melewati SEDULUR homestay (semula Ranz mau booking kamar di homestay ini, tapi ternyata fully-booked), Ranz melihat ada yang jualan bakso, Ranz ternyata ingin bakso, maka kita pun mampir. Aku langsung pesan satu porsi bakso ke si penjual, tanpa ngeh bahwa ternyata saat itu ada dua tukang jual bakso, tanpa kutahu Ranz telah pesan pada si penjual yang satunya. LOL. Akhirnya yang kupesan aku makan disitu, pesanan Ranz dibungkus, dibawa balik ke penginapan. LOL.

Aku bersyukur Ranz telah kembali doyan makan, ini pertanda bagus. J

Malam itu, seperti biasa sebelum keesokan hari melanjutkan perjalanan, kita packing. Well, Ranz yang packing, aku membantu (sedikit). LOL.


To be continued.