Cari Blog Ini

Kamis, 14 Desember 2017

MERAMBAH KOTA LAIN DENGAN BERSEPEDA

MERAMBAH KOTA LAIN DENGAN BERSEPEDA

Beberapa minggu terakhir (Desember 2017) dunia persepedaan Indonesia sedang ‘heboh’ memperbincangkan tentang seorang pesepeda bernama Nafal Quryanto. Nafal menemui ajalnya saat mewujudkan impiannya untuk bersepeda menuju Nepal, setelah bermimpi selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah mempersiapkan segalanya selama tiga tahun – menabung, merencanakan rute perjalanan, sekaligus tentu saja menyiapkan fisik serta mental, dll – Nafal meninggalkan kota tempat tinggalnya Bogor di bulan Mei 2017. Beberapa berita di media utama mengangkat kisahnya menjadi headline setelah terdengar kabar Nafal harus menghentikan perjalananannya antara India dan Nepal karena kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Ada juga sebuah media yang menulis opini tentang berbahayanya bersepeda seorang diri menempuh jarak jauh, apalagi dengan trek yang sulit, misal harus melewati pegunungan. Hmm ... barangkali mereka belum tahu kisah sang legendaris turing sepeda, Paimo? Dia telah mengunjungi banyak negara dan tentu juga gunung dengan naik sepeda, sendirian juga. Nepal pun telah dia kunjungi mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Barangkali Nafal pun ngefans pada Paimo dan menjadikannya sebagai role model, selain AristiPrajwalita, sang peturing perempuan, yang ikut membantu Nafal merencanakan perjalanannya bersepeda ke Nepal.

waktu kita ke Pantai Klayar, Agustus 2013

Aku dan Ranz

Delapan tahun yang lalu, waktu diajak seorang kawan untuk menyambut 3 orang b2c-er (bike to campuser) dari Jakarta menuju Jogja, dan lewat Semarang, aku terkagum-kagum melihat mereka menempuh jarak ratusan kilometer hanya bertiga. Waktu aku bercerita tentang hal ini pada seseorang, dia mengatakan bahwa perjalanan jauh akan jauh lebih mudah (direncanakan maupun dijalani) jika dilakukan hanya berdua, atau bertiga. Maksimal berempat lah. Jika lebih dari itu, akan lebih sulit menyatukan keinginan.

Dan ... ternyata benar adanya! Aku telah membuktikannya dengan bersepeda ke beberapa propinsi hanya berdua dengan Ranz. Berdua tentu lebih nyaman karena kita tidak akan begitu kesepian dalam perjalanan. J (Bahwa aku adalah seorang loner tidak berlaku disini, aku butuh navigator, pembaca peta, mekanik, tukang foto, sekaligus porter dong. Semua itu ada di satu orang, Ranz. LOL.) dan karena kita berdua sama-sama perempuan, kita ga perlu khawatir bakal ditolak jika kita mampir menginap di satu hotel syariah. LOL.

di perbatasan Solo - Klaten, dalam perjalanan ke Purwokerto, Maret 2013

Di satu tulisan di media kubaca bahwa Paimo menyatakan satu perjalanan baru bisa disebut turing jika jarak yang ditempuh minimal 5000 kilometer. Syukurlah selama ini kita tidak pernah menyatakan diri melakukan turing, lol, cukup berbikepacking.  Di tahun 2012 waktu kita bertemu dengan seorang teman facebook yang telah tinggal di Amerika selama puluhan tahun, yang kebetulan dolan ke Semarang, menyebut kita sebagai bike traveler.  Menurutku Om Ling Tan ada benarnya juga. Dalam tiap perjalanan yang kita jalani, kita selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi satu atau dua destinasi wisata, (makna traveling kan dolan untuk berwisata kan? :D) ga melulu bersepeda dari satu kota ke kota lain. Jika di blog aku menggunakan gowes tour sebagai satu tag, itu berarti dalam kegiatan bersepeda itu, kita mampir ke satu destinasi wisata, bukan turing seperti yang didefinisikan oleh Paimo. J

di Lombok
di Gili Trawangan
menuju Pantai Serangan - Bali

Sebelum mengakhiri tulisan (yang ditulis gegara baper ini LOL) aku menyatakan turut berdukacita atas meninggalnya Nafal. Semoga dia bahagia karena meninggal saat melakukan satu hal yang telah lama dia idam-idamkan. Bagi mereka yang bermimpi untuk melakukan perjalanan bersepeda dalam jarak jauh, jangan khawatir, kita semua akan mati kok jika waktunya tiba. Yang penting kita harus tahu diri kekuatan dan kemampuan kita dalam bersepeda, tidak usah ngoyo di luar batas.

(Trust me, biking long distance makes us addicted!)

IB180 18.38 14/12/2017


 N.B.:

Kisah tentang Nafal Quryanto bisa dibrowsing dengan mudah. :)

Rabu, 13 Desember 2017

Dolan ke Jogja demi sebuah nostalgia

Dolan ke Jogja demi sebuah nostalgia

Latar belakang dolan ini adalah ketika aku aplot beberapa foto reuni bersama kawan kuliah Sastra Inggris di grup KAGAMA. Seorang Radit bertanya, “itu foto ‘bonbin’ di Lembah kah?” kujawab, “Tidak, ini di belakang fakultas Sastra /Ilmu Budaya.” Kemudian Radit memberitahu bahwa sekarang kantin bonbin telah pindah ke Lembah (UGM). Dia juga mengomporiku untuk dolan ke UGM, bukan hanya sekedar lewat, tapi khusus blusukan di UGM.

the 'hotspot' for taking picture :D

Sabtu 9 Desember 2017

Di hari dimana seorang Dany Saputra (kawan sepedaan dari Komselis)  dan Febi Setyaningsih (kawan sepedaan dari @selisolo) melakukan akad nikah, aku mengajak Ranz dolan ke Jogja. Setelah sempat keberatan, Ranz mengiyakan ajakanku. Pukul setengah tujuh pagi kita telah sampai stasiun Purwosari, untuk membeli tiket KA Prameks. Kita sekaligus beli tiket pulang pukul 14.41. (aku berhasil mengajak Ranz ke Jogja, tapi gagal ngomporin dia untuk gowes aja baliknya.)

Pukul 07.31 kita telah berada di satu gerbong KA Prameks. Suasana gerbong sangat penuh. (Setiap hari ada puluhan ribu orang pulang pergi Solo – Jogja nampaknya.) Kita turun di stasiun Lempuyangan sekitar 15 menit sebelum pukul sembilan. Dari sana kita langsung ke arah Bulaksumur.


Seperti biasa, yang pertama kali kita tuju sebagai spot foto adalah gerbang masuk dimana ada tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA. Jika kita beruntung, di satu hari nan cerah, kita bisa memotret diri dengan latar belakang tulisan itu dengan penampakan Gunung Merapi nan megah. Namun, hari itu Jogja diselimuti mendung, meski tetap hawanya terasa panas. (Nah lo! LOL.)

Owh ya, kita juga sarapan di dekat situ: kita bawa bekal mie goreng dan gorengan dari rumah. J Lumayan mengirit kan? Waktu foto-foto, ada juga beberapa orang lain yang melakukan hal yang sama: foto-foto dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA.

Dari sana, kita pun masuk ke arah boulevard. Sesampe seberang gedung UC, Ranz melihat ada tulisan “ALUMNI UGM” terpampang di satu rumah, di belakang gedung UC. Aku pun belok kesana, untuk memotret Austin. :D Dari sana, aku langsung menuju Utara, ke kampus Fakultas Ilmu Budaya, kemudian belok kanan untuk menuju Masjid Kampus.
Keberadaan tempat parkir khusus sepeda yang terlihat di samping (belakang?) FIB tentu saja membuatku terpana. Aku harus mampir untuk memotret Austin, yang kuparkir disitu. Ada beberapa sepeda yang sudah diparkir disitu; yang paling mencolok adalah keberadaan sepeda fe**ral yang groupset-nya masih terlihat gres. Selain itu ada sepeda p***gon dan w**cycle; juga sepeda ‘inventaris’ yang telah sekian tahun lalu kulihat di tempat parkir sepeda Gelanggang Mahasiswa.

tempat parkir sepeda di FIB

Sebelum meninggalkan lokasi, seorang satpam yang berjaga di FIB menyapaku, kita pun ngobrol sebentar. Aku lulus S1 di tahun 1993, dan ternyata di tahun itu juga si bapak satpam memulai bekerja disitu. J

Dari sana kita menuju Masjid Kampus. Entah mengapa aku tidak memotret Austin disitu, karena aku tidak menemukan spot yang tepat untuk memotret. L zaman aku kuliah S1 dulu, MasKam ini belum ada. Waktu masih kos di daerah Jakal Km. 5, kadang aku dan kawan2 kos ikut shalat tarawih di Gelanggang Mahasiswa. (Lho, kok di Gelanggang Mahasiswa? Iya, lha MasKam belum ada? LOL.)

di Lembah UGM

Dari sana, kita ke Lembah. Aku hafal lokasinya di daerah situ, tapi benar-benar pangling dengan penampakannya. Daerah itu tak lagi berupa ‘lembah’. Radit bilang dulu pernah ada 5 lapangan bola basket, sekarang tak lagi ada. Yang nampak mencolok – menurutku – adalah kantin yang berjejeran. Di ujung Selatan, kantin ‘bonbin’ (pindahan dari FIB) terletak.

Yang menarik untuk dijadikan spot foto adalah danau di dalam kawasan lembah itu. Di sekitar danau dibangun trek untuk jogging. Waktu aku dan Ranz disitu, kita melihat beberapa orang sedang jogging. (Zaman kuliah S1 dulu, aku biasa jogging di lapangan yang sekarang menjadi tempat parkir Gedung Sabha Pramana. Waktu kuliah S2, kulihat banyak orang yang jogging di tempat parkir GSP yang cukup luas itu.)

Aku dan Ranz ngobrol cukup lama di kawasan danau itu, sambil menunggu Radit datang. Setelah Radit datang, dan ngobrol bertiga selama beberapa menit, kita keluar dari kawasan itu. Aku bilang aku pingin ke Gedung Pusat. Dia pun mengajak kita ke arah jalan Humaniora, di samping Fakultas Psikologi, kita masuk lewat situ. Saat lewat FEB dan FISIPOL, aku baru memperhatikan bahwa fakultas-fakultas itu tak lagi memiliki pagar. Pagar hanya ada di bagian ‘luar’. Setelah foto-foto di Gedung Pusat, Radit mengajak kita menyeberang jalan ke arah Barat, menuju fakultas MIPA. Aha ... sudah lamaaaaa aku tidak lewat situ, aku selalu lewat boulevard kalau mau keluar dari UGM. J Setelah melewati fakultas Biologi, belok kiri sedikit, kemudian belok kanan, kita pun sampai di kawasan ‘hutan’. Waaah ... dulu aku kadang juga jalan lewat sini, ketika masih ngekos di Jl. C. Simanjuntak, untuk menuju Gedung Lengkung, yang terletak di pinggir Selokan Mataram. (Terakhir kali ke Gedung Lengkung tahun 2011, pertama kali aku mengajak Ranz ke area UGM.)


Setelah keluar dari area UGM, di seberang RS Dr. Sardjito, kita ke arah Selatan, melewati perumahan dosen Sekip, menuju Blimbing Sari. Disini kita mampir ke satu angkringan untuk beli minum, kita sangat haus, dan butuh yang segar-segar. Dan ... ternyata ... es teh-nya enak bangeeettt! J ga pake lama, aku langsung habis 2 gelas es teh! :D Ranz hanya minum satu gelas es teh, sedangkan Radit es jeruk.

Dari sana, Radit mengajak lewat satu daerah (yang aku lupa namanya LOL), tapi duluuuu dilewati bus kuning A3 dari Jombor menuju Condong Catur. Mungkin daerah situ juga disebut Terban? Di satu gang yang kita lewati, aku pernah ngekos daerah itu ketika menjelang lulus kuliah S1. Radit mengajak kita blusukan lewat satu gang kecil setelah kita melewati jembatan Kali Code.

Setelah blusukan itu kita pun sampai Jl. AM Sangaji (kalo ga salah ingat namanya), melewati Tugu, kemudian masuk Jl. Mangkubumi (eh, kayaknya namanya sudah diganti, tapi aku lupa namanya apa.) Spot foto selanjutnya adalah di ujung kanan, sebelum masuk ke stasiun Tugu. Disitu ada patung punakawan, dengan tulisan di bawahnya STASIUN YOGYAKARTA.

di ujung Jl. Mangkubumi, sebelum stasiun Tugu


Setelah selesai foto-foto, Radit mengundurkan diri, aku dan Ranz ke Malioboro. Kita ga jauh-jauh sih, hanya motret sepeda di seputaran situ saja (ga sampai pol jalan Malioboro / Ahmad Yani). Kemudian mampir makan siang sambil minum es teh lagi.
Sekitar pukul setengah dua kita menuju stasiun Tugu. Dalam perjalanan pulang, KA Prameks yang kita naiki pun kembali penuuuuuh.

Masih banyak sebenarnya yang ingin kujelajahi, hanya di kawasan UGM saja. Next time lagi deh. J


LG 12.24 13/12/2017 

ini ada di sekitar Stadion Kridosono

"hutan" di belakang kampus Fak. Biologi

patung ini diberi nama "Petangguh" untuk mendeskripsikan orang2 Jogja yang tangguh